Secercah Harapan Badak Jawa.

Aslidomino – Kabar bahagia datang dari keanekaragaman hayati Indonesia. Berdasarkan hasil monitoring sampai akhir tahun 2019 lalu, ternyata populasi badak jawa di Indonesia terus meningkat.

Jumlah terakhir populasi badak jawa mencapai 72 ekor dengan penambahan empat ekor, yang terdiri dari dua jantan dan dua betina.

Faktanya, penambahan sampai tahun 2019 itu merupakan penambahan jumlah populasi badak jawa terbesar sepanjang sejarah.

Terutama dibandingkan penambahan pada tahun 1967, 1980, 1983, dan 2007.

“Bahkan saya dengar dari Taman Nasional (Ujung Kulon) malah ada 76 (ekor),” ungkap Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI).

Jumlah tersebut memang belum diklarifikasi oleh Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang, Banten.

Pasalnya setiap tahun memang akan ada perhitungan secara resmi. Hanya saja, pengembangbiakan badak jawa termasuk memerlukan waktu yang lama, jadi jumlah resminya akan diumumkan per tahun.

Apalagi pengembangbiakan badak memang dibutuhkan waktu yang cenderung lama. Widodo mengungkapkan bahwa ada banyak faktor yang membuat interval kawin badak jawa sangat lama.

Pertama, untuk bisa kawin, badak jawa harus berumur tujuh tahun. Lalu kehamilan badak jawa memakan waktu 16 bulan. Setelah lahir, badak jawa juga masih harus menjaga anaknya 3-4 tahun sebelum akhirnya disapih dan lepas dari induknya.

“Jadi mungkin 4-5 tahun baru punya satu badak anakan,” ungkap Widodo.

Selain itu faktor kondisi habitatnya juga memengaruhi keinginan badak untuk kawin.

“Misalnya waktu musim kemarau keras. Itu pernah terjadi. Sangat kering sekali. Itu, kan, membuat badak tidak suka kawin,” katanya.

Badak Jawa Termasuk Hewan Langka Apendiks I.
Badak Jawa
Badak Jawa.

Dirangkum dari Agen poker terpercaya. Sebenarnya terhitung sejak tahun 2017-2019, populasi badak jawa sudah bertambah sebanyak sembilan ekor. Dari total 72 ekor badak jawa di TNUK saat ini, 38 di antaranya jantan, 33 ekor betina, dan satu ekor belum teridentifikasi jenis kelaminnya.

Lalu dari total tersebut, 15 diantaranya dikategorikan sebagai anak badak dan 57 ekor lainnya dikategorikan remaja sampai dewasa.

“Sepanjang ini (kondisi para badak) baik, ya. Semenjak yayasan kami (Yayasan Badak Indonesia/YABI) membantu taman nasional untuk pengamanan, tidak ada badak yang mati karena perburuan liar. Kita bisa menghentikan perburuan liar itu sejak tahun ’98,” ujar Widodo.

Sejak awal tahun 1970, jumlah populasi badak jawa diketahui sedikit sekitar 22-25 ekor saja baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Kemudian, pada 1980 sebenarnya sudah ada upaya perlindungan dan jumlahnya meningkat menjadi 55-60 ekor.

Sayangnya, kala itu praktik perburuan liar terhadap badak jawa masih kerap terjadi. Itu menyebabkan pada sekitar tahun 1994, jumlah populasi badak jawa sempat menurun menjadi 34 ekor.

Akhirnya dunia mengatakan bahwa badak jawa dikategorikan sebagai Critically Endangered dalam Red List Data Book yang dikeluarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

Hewan ini juga termasuk dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Faunda and Flora (CITES) sebagai salah satu spesies badak di antara lima spesies badak dunia.

Di Indonesia sendiri status perlindungan badak jawa juga dikuatkan dengan adanya PP No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Hal ini juga tertera pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Perburuan Liar Badak Jawa Sejak Masa Kolonial Belanda.

Perburuan yang terjadi sampai membuat keberadaaan badak ini hampir punah sebenarnya sudah terjadi sejak masa kolonial Belanda. Kala itu badak—terutama badak jawa—dianggap sebagai hama.

Widodo menjelaskan bahwa cara badak jawa mencari makanan dikategori sebagai hewan kafetarian. Artinya, dia akan mencari makan sambil berjalan dan menjelajah hutan.

“Ngambil di sini, ngambil di sana, sedikit-sedikit. Tidak makan sekaligus. Tidak semua dihabiskan. Ini juga ciri-ciri hewan browser. Jadi sambil jalan itu dia juga akan membuang kotoran,” jelasnya.

Variasi pakannya yang berjumlah lebih dari 200 jenis dianggap manusia akan merusak perkebunan mereka. Karena dulu badak jawa tinggal tidak jauh dari pemukiman manusia.

Perburuan liar ini dipercaya sudah dimulai sejak abad ke-18 silam. Bahkan pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa saat itu pernah mengadakan sayembara perburuan badak jawa. Siapa yang berhasil membunuh satu badak jawa, maka akan diberi ganjaran 10 gulden per satu kepala badak jawa.

Sebenarnya pada 1910, pemerintah Hindia Belanda sudah secara resmi mengeluarkan undang-undang perlindungan terhadap badak jawa. Hanya saja perburuan tersebut masih kerap terjadi.

Baru pada 1921, berdasarkan rekomendasi dari The Netherlands Indies Society for Protection of Nature, pemerintah Belanda sudah menyatakan habitat badak di Ujung Kulon sebagai kawasan Cagar Alam.

Peran Badak Jawa pada Ekosistem.

Dirangkum lebih jauh dari Agen domino terpercaya. Tidak seperti badak sumatera yang dikategorikan sebagai hewan pemburu, badak jawa merupakan hewan herbivora, pemakan tumbuh-tumbuhan. Diperkirakan badak jawa membutuhkan pakan sampai 50 kg/hari.

Di dalam ekosistem hutan, ternyata badak jawa memiliki peran penting. Melihat dari cara mereka mencari makanan sambil berjalan. Sepanjang perjalanan itulah sebenarnya badak jawa menyebarkan biji-bijian yang menempel di badannya. Biji-biji itu yang nantinya akan menjadi benih tumbuhan yang baru.

“Nah dengan ini dia memelihara hutan,” kata Widodo.

Cara makan badak jawa mencari makan yaitu dengan mendorong pohon-pohon besar menggunakan dadanya hingga rubuh. Umumnya jenis tumbuhan kesukaannya yang sudah berusia 3-7 tahun dengan tinggi 3-10 meter.

Itu dilakukan agar mereka dapat mengambil daun, pucuk, bahkan ranting dari pohon atau tumbuhan tersebut.

Meski begitu, ada satu jenis tanaman yang justru mengancam habitat pakan badak jawa, yaitu tanaman langkap atau Arenga obtusifolia.

Tanaman langkap ini merupakan tanaman sejenis aren yang sangat cepat berkembang biak di hutan rawa dan dataran rendah, yang juga termasuk kawasan favorit badak jawa. Penyebaran benih langkap diketahui dibawa oleh musang.

Widodo menjelaskan, “Langkap itu bisa tumbuh tanpa ada cahaya. Saat musang menyebarkan biji-biji itu kemana-mana, maka semakin cepat dia tumbuh besar. Kalau sudah besar, daun-daunnya itu bisa menutupi sinar matahari sampai ke lantai tanah.”

“Kalau tidak ada matahari sampai ke lantai tanah, maka tumbuhan-tumbuhan pakan badak tidak bisa tumbuh karena jenis-jenis pakannya perlu cahaya matahari,” papar Widodo.

Sejak 2014, dilansir Mongabay, tanaman langkap telah mengambil lahan pakan badak jawa sekitar 30 persen dari luas semenanjung Ujung Kulon.

Untuk mengatasi situasi itu, didirikan Javan Rhino Study Conservation Area di TNUK, tepatnya di sebelah timur Semenanjung Ujung Kulon. Area 5.200 hektar itu akan menjadi fokus pembinaan habitat pakan badak.

“Kalau di plot-plot langkapnya dikendalikan, misalnya (di area) 100×100 meter, itu tumbuhan pakan badak tumbuh banyak sekali. Jadi bermacam-macam tumbuhan yang sangat berguna untuk badak jawa. Nah, ini yang diupayakan supaya ancaman dari kualitas habibat itu terhindarkan,’’ pungkasnya.

Ini juga seru : http://bahasadomino.org/70-tahun-hubungan-indonesia-rusia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *